Proses Jasmani
Jasmani diciptakan Allah untuk menjadi busana ruh di dalam proses mengarungi kehidupan alam nyata ini. Karena itu kejadiannya-pun berkaitan erat dengan piranti kehidupan dunia. Sedangkan segala komponen yang dinamakan zat an-organik itu, disediakan untuk menjadi sarana pemeliharaan keberlangsungan hidup jasmani. Dalam proses pembentukan badan kasar manusia, Allah telah menerangkan melalui firman-Nya: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dari suatu saripati (yang berasal dari) tanah. Kemudian Kami jadikan saripati itu (menjadi) nutfah (sperma, air mani yang disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian nutfah itu Kami jadikan segumpal darah, lalu segumpal darah itu Kami jadikan segumpal daging, dan dari segumpal daging itu kami jadikan tulang-belulang, lalu tulang-belulang itu kami bungkus dengan daging, kemudian dia (keseluruhannya) itu kami jadikan makhluk yang lain; (berbentuk) maka Maha Suci Allah Pencipta Yang Paling Baik.” (Al Mu’minuûn 12-14)
Kalimat aslinya“Min Sulaalatin Min Thiin” artinya saripati yang berasal dari tanah dan disebut pula zat-zat asli yang terdapat pada bumi. Atau dengan kata lain “zat an-organik”. Zat tersebut ada, setelah melewati persenyawaan dengan zat-zat lain, misalnya zat pembakar (oksigenium) yang di dalam bahasa Al Quraân disebut dengan istilah “Shal-shal” (baca: sol-sol); zat arang (karbonium) yang di dalam bahasa Al Quraân disebut dengan istilah “Fakh–khar” (baca:Fah-hor); zat lemas (nitrogenium) yang di dalam bahasa Al Quraân disebut dengan istilah “Hamaâin” zat air (hidrogenium) yang di dalam bahasa Al Quraân disebut dengan istilah “thiîn” zat besi (antara lain: ferrum, yodium, kalium, silikum, kalsium dan mangaan) yang di dalam bahasa Al Quraân disebut “Laâzib” dan zat protein (bentuk zat-zat an-organik) yang di dalam bahasa Al Quraân disebut dengan istilah “turab”. Adapun penjelasan yang secara tartil (terinci) tentang uraian zat–zat tersebut di atas menurut Al Quraân sebagai berikut:
Oksigenium alias zat pembakar yang diistilahkan dalam bahasa wahyu “Shal- shal”. Begitu-pun karbonium atau zat arang yang dinyatakan “Fakh khaâr” dalam firman-Nya. Maka untuk kejelasannya antara lain: “Dia (Allah) menciptakan manusia dari tanah kering (oksigenium) seperti tembikar (karbonium)”. (Ar Rahman 14)
Nitrogenium alias zat lemas yang disebut dalam bahasa Al Quraân dengan kalimat “Hamaâ-in” sebagaimana firman-Nya: “Sesungguhnya Aku akan menciptakan seorang manusia dari tanah liat yang kering dari lumpur hitam (nitrogenium) yang diberi bentuk”. (Al Hijr 28)
Hidrogenium alias zat air, di dalam firman-Nya menerangkan dengan istilah “Thiîn” sebagaimana penjelasan Al Quraânul Karim: “dan Ia telah memulai penciptaan manusia dari tanah (zat air/hidrogenium)” (Assajdah 7)
Zat besi (antara lain: ferrum, yodium, kalium, silikum, kalsium dan mangaan) yang di dalam bahasa wahyu dengan istilah “Laâzib” menyatakan: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan mereka dari tanah liat (zat besi)” (AshShaffaat 11)
Protein atau zat–zat an-organik yang diistilahkan dalam firman-Nya dengan kalimat “Turab” ialah: “Ia (Allah) menciptakannya (Adam / manusia dari tanah (protein)”. (Ali ‘Imran 59)
Shadaqallahul‘Azhim. Tersebut firman-Nya di atas telah menerangkan secara terurai dengan jelas dan nyata mengenai proses penciptaan jasmani (badan kasar manusia), maka untuk lebih jelasnya ialah: Turab adalah zat-zat asli yang terdapat di tanah, juga yang dinamai zat an-organik. Zat an-organik itu baru terjadi setelah melalui proses persenyawaan antara lain: fakh-khar yakni zat arang/karbonium, shal-shal yaitu zat pembakar/oksigenium dan hamaâ-in adalah zat lemas/nitrogenium pun serta thiîn atau zat air/hidrogenium. Kemudian zat-zat tersebut bersenyawa dengan zat besi (ferrum, yodium, kalium, silikum, kalsium dan mangaan) yang disebut dalam Al-Qur’aân dengan Lazib (zat-zat an-organik).
Di dalam proses persenyawaan tersebut, lalu terbentuklah suatu zat yang dinamai “Protein”. Inilah yang disebut turab alias zat-zat an-organik. Salah satu di antara zat-zat an-organik yang terpandang penting ialah zat kalium yang banyak terdapat di dalam jaringan tubuh manusia teristimewa di dalam otot-otot. Zat kalium dipandang penting oleh karena mempunyai aktifitas dalam proses hayati yakni dalam pembentukan bahan halus, dengan berlangsungnya proteinisasi menjelmakan proses pergantian yang disebut “Substitusi”. Setelah sel-sel mengalami substitusi kemudian menggempurlah elektron-eketron sinar kosmis yang mewujudkan sebab pembentukan (formasi), dinamai juga sebab wujud atau “Kausa Formatis”. Adapun sinar kosmis itu ialah suatu sinar yang mempunyai kemampuan untuk merubah sifat-sifat zat yang berasal dari tanah, maka dengan mudah sinar kosmis itu dapat mewujudkan pembentukan tubuh manusia (Adam) berupa badan kasar (jasmani), yang terdiri atas: kepala, telinga, mata, kaki, tangan, hidung, mulut dan seterusnya.
Hanya sampai disinilah ilmu pengetahuan eksak dapat menganalisa tentang proses pembentukan jasmani manusia, sedangkan tentang ruhaninya tentu dibutuhkan ilmu pengetahuan yang serba ruhaniah dan sangat erat hubungannya dengan ilmu metafisika.
Setelah menyimak proses pembentukan badan kasar manusia dengan ilmu eksak yang diuraikan secara jelas oleh firman Allah lewat Al Quraânul Karim, maka dapatlah kita menyimpulkan bahwa jasmani manusia itu diciptakan Allah khusus untuk menjadi busana ruh selama tinggal di bumi.
Mengapa khusus harus disebut “Busana Ruh” yang tinggal dibumi…?
Sebab kalau kita simak dan renungkan proses pembentukan dan pemeliharaan badan kasar alias jasmani manusia itu, sebagaimana yang telah diuraikan di atas. Jelaslah berkaitan erat dengan zat-zat an-organik yang ada pada tanah (bumi). Atau dalam kata lain yang lebih sederhana, jasmani manusia diciptakan dan dipelihara oleh Allah melalui proses empat anasir; api, angin, air dan tanah. Empat nasir tersebut sangat dibutuhkan oleh setiap manusia bahkan segala makhluk hidup di planet bumi yang senantiasa berputar kehidupannya.
Adapun ruh itu bukanlah salah satu dari ke empat anasir. Ruh justru sesuatu yang lebih tinggi martabatnya dari ke empat anasir itu. Sebab ruh itulah yang bertindak sebagai penggerak atau generator jasmani manusia. Ingatlah bahwa yang sebenarnya jasmani itu mati! Karena jasmani itu berasal dari api, angin (udara), air, tanah. Atau dalam istilah firman-Nya “Sulaalah Min Thiin”.
Ruh meliputi jasmani diawali dengan penyempurnaan pembentukan badan kasar dalam proses rahim, sebagaimana firman-Nya: “Kemudian Dia menyempurnakan (kejadiannya) dan meniupkan kedalamnya ruh-Nya dan Dia menjadikan bagimu pendengaran, penglihatan dan hati, (namum kebanyakan di antara) kamu sedikit sekali yang bersyukur.” (As Sajdah 9)
by cm. hizboel wathony
03-190111