Tausyiah 2

Ruh Bukan Udara

Terdiri dari apa sajakah sesungguhnya manusia itu?
Maka telah sepakat para pakar di berbagai bidang ilmu, bahwa sesungguhnya manusia itu tak hanya sekedar darah, daging, tulang dan kulit, sebagaimana yang dapat diteliti secara keilmuan, juga dapat diyakini sesuai dengan berbagai ayat-ayat Allah yang terkumpul dalam Al-Qur’aân maupun lewat Al-Hadis. Darah, daging, tulang, kulit itu mestilah ada yang menggerakkannya…!

Itulah  Ruh…!

Ruh keadaannya fitrah, diciptakan untuk menjadi penggerak jasmani (badan- kasar) dari awal kejadian jasmani hingga akhirnya. Jasmani dan nafsu serta coraknya diciptakan untuk menjadi busana ruh.

Tapi apakah hakikat ruh itu sendiri …?

Penciptaan dan proses serta sifat manusia adalah penuh dengan misteri yang hingga kini belum terungkapkan dan memang tidak akan pernah terungkap secara mutlak. Sebab, Manusia adalah rahasia Allah; danAllah itu sendiri adalah rahasia manusia; dan rahasia itu menjadi sifat-Nya serta menjadi tirai pemisah keadaan wujud diri-Nya dengan makhluk dan tirai pemisah wujud diri-Nya tidak lain adalah diri-Nya. 

Dunia kedokteran berusaha menyibak tabir misteri manusia, dengan ilmu eksaknya. Tapi selalu menemui jalan buntu. Mereka para ilmuwan, muncul dengan berbagai corak teori penyibak tabir manusia, namun hasilnya mempertebal tirai misteri manusia itu sendiri. Dikalangan pemikir Islam Mujtahid tumbuh pulalah dengan suburnya berbagai pendapat mengenai manusia dan misteri yang meliputinya. Dari kalangan ulama khususnya kaum sufi, muncul ilmu kalam sebagai penyibak misteri manusia. Sebahagian besar ulama ahli analis tentang proses penciptaan manusia ternyata hanya mampu mengurai yang terbatas pada kejadian jasmani. Akan halnya proses dan wujud ruhani manusia, akhirnya toh harus mereka serahkan urusannya kepada Allah. Mereka hanya sampai pada batas kesepakatan bahwa pada dasarnya manusia diciptakan melalui dua dimensi, yaitu dimensi ruhani dan dimensi jasmani.

Ruh adalah sesuatu yang lembut dan halus serta abstrak, ia meliputi jasmani. Ruh bergerak memelihara jasmani dengan leluasa tanpa dapat dipandang bentuk wujudnya dengan mata telanjang. Ruh diciptakan lebih dahulu dari jasmani serta ia tidak dapat ditangkap dengan alat apapun modernnya. Ruh hanya dapat diketahui serta dilihat olehBashiratul Iman (pandangan iman) dan Bashiratul Qalbi (kaca mata hati) dengan sarana lensa “Ilmu tauhid dan hakikat hingga makrifat”. Dengan cara semacam itupun masih sangat minim untuk mengetahui selengkap-lengkapnya. Sebab mengingat firman Allah yang menyatakan:
Dan mereka bertanya kepada-mu tentang ruh. Katakanlah: Ruh itu termasuk urusan Tuhan-ku, dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sangat sedikit (Al Israa’ 85) 

Macam dan bagaimanakah wujud ruh itu?

Sebahagian besar pakar bathiniah hanya sampai pada pengetahuan tentang keadaan sifat-sifatnya saja. Mungkin ruh itu dapat diibaratkan seperti keadaan arus listrik yang mengalir melalui kabel. Maka dimisalkan seperti itu, setrum itu dapat diketahui apabila negatif serta positif menjalani proses persenyawaan sehingga lampu elektronik itu menyala. Dengan diketahuinya lampu memancarkan cahayanya, barulah kita sadar bahwa disitu ada setrum. Atau dapat kita rumuskan bahwa, cahaya lampu adalah sifat penampakkan wujud setrum yang meliputi kabel, menjalar dan berproses hingga menyala. Begitupun wujud ruh yang meliputi jasad manusia. Kita hanya mengetahui gerakan jasmani yang hidup dengan sebab adanya ruh yang meliputi. Adapun keadaan hakikat jasmani itu sesungguhnya mati, sedangkan yang hidup dan dapat bergerak itu adalah ruh. Maka dalam masalah ini, kita dapat merumuskan bahwa pada dasarnya badan kasar (jasmani) tidak dapat bergerak, kecuali dengan ruh dan begitu pula keadaan ruh, ia tidak dapat bergerak kecuali dengan izin-Nya. Adapun “Izin” itu urusan dan sekaligus sifat-Nya yang tidak lain diri-Nya. Maka bagi barangsiapa yang hendak melihat wujud Allah, lihatlah gerakan ruh dan bagi barangsiapa yang hendak melihat ruh, lihatlah pola, sifat dan gerak hidup jasmani, sedangkan wujud keadaan ruh ada pada rahasia Allah yang menjadi amar-Nya, sekaligus sebagai tirai wujud diri-Nya.

Ada sebahagian Ilmuwan berpendapat bahwa manusia itu terjadi dari dua anasir yaitu tanah dan udara yang disebut dengan ruh. Jasad dengan ruh yang seperti itulah menjelma menjadi manusia.

Tetapi perlu segera digaris bawahi, bahwa ruh bukan udara! Sesungguhnya ruh itu adalah ciptaan Allah yaitu ciptaan yang penuh rahasia, serta bukan termasuk makhluk dimensi jasmani. Memang, apabila dilogikakan dengan keadaan manusia hidup yang amat membutuhkan udara (zat asam), kesimpulan tentang ruh itu tampak seperti benar adanya. Mudah diketahui bahwa dengan jalan pernapasan yang dipompa jantung itu, dan proses keluar masuknya udara melalui lobang hidung, dikatakan manusia itu “hidup“ dan apabila jantung manusia itu, tidak lagi memompa, serta hidungnya sudah tidak lagi dilalui oleh keluar masuknya udara, maka dirumuskan bahwa manusia itu ruhnya telah berpisah dengan jasad alias mati!

Perlu ditegaskan disini, bahwa ruh itu bukan udara, ya memang bukan sekedar udara! Sebab, apabil ruh itu hanya dipahamkan sebagai udara, berarti ruh itu terkatagorikan sebagai makhluk dimensi alam nyata yang dapat dideteksi, tidak menutup kemungkinan bisa menjadi obyek riset manusia dengan alat buatan manusia yang serba modern, atau dapat pula ruh itu disebut salah satu komponen dari persenyawaan zat-zat yang terdapat di langit, yang kemudian bersatu dengan zat-zat an-organik yang terdapat di bumi, dari persenyawaan itu terjadilah apa yang disebut manusia. Tetapi, kalau memang benar demikian keadaan dan wujud ruh, maka bagaimanakah dengan keadaan dan wujud Malaikat? Padahal Allah menyebut keadaan dan wujud Malaikat itu, sebagaimana yang dapat kita simak dari beberapa firman-Nya termasuk golongan ruh. Kalau memang demikian! Apakah para Malaikat termasuk komponen benda lagit yang disebut udara itu? Apakah Jibrail (Jibril) itu juga termasuk katagori Udara? Atau nanti pada saat Allah mengumpulkan para Malaikat dan bangsa makhluk lainnya itu, dapat dikatakan sebagai mengumpulkan “Udara”, sebagaimana yang terdapat di dirgantara? Itulah hal yang mustahil! Yang jelas beberapa firman Allah menyatakan sebagai berikut di bawah ini:
Dan sesungguhnya Al-Quraân ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan Semesta Alam. Dia (Al-Quraân) dibawa turun oleh ruhulamin (Jibril). (Asy Syu’ara 192-193). Pada hari ketika Ruh dan Malaikat berdiri bershaf-shaf, mereka tidak berkata-kata, kecuali siapa yang diberi izin kepadanya oleh Tuhan Yang Maha Pemurah, dan ia mengucapkan kata yang benar. (An Naba 38). 

Dan masih banyak lagi firman Allah yang tidak dicantumkan disini. Maka yang dimaksud dengan “Ruh” dalam firman Allah tersebut di atas, adalah bukan udara. Tegasnya: Ruh itu adalah istilah pada bahasa wahyu Allah. Sering sekali dalam firman-Nya, Dia menamakan segala sesuatu yang menyangkut masalah “rahasia” itu, dengan menyembunyikan melalui selimut nama yang bersifat rahasia. Sebagaimana Ia mengistilahkan sebutan Nabi Muhammad saw.  itu “Nur”kehidupan yang ada di langit, bumi serta diantara isi keduanya juga Allah menyebutkan dengan kalimat “Nur”. Dan masih banyak lagi corak istilah semacam tersebut.

Itulah bahasa-Nya, tidak ada yang bisa mentakwilkan nama-nama yang bersifat Mutasyaabihaat (samar) dalam firman-Nya, kecuali hanya diri-Nya. Maka apabila ada yang hendak mencoba (spekulasi) untuk mentakwilkan ayat-ayat atau nama-nama semacam tersebut diatas, sudah dapat diambil kesimpulan bahwa yang hendak coba-coba itu, adalah termasuk orang yang mengindap penyakit akidah di dalam hatinya.Dia-lah yang menurunkan Al  Kitab (Al  Quraân) kepada-mu. Di antara (isi) nya ada ayat-ayat yang muhkamat, itulah pokok-pokok isi Al Quraân dan yang lain (ayat-ayat) mutasyaabihaat. Adapun orang-orang yang dalam hatinya condong pada kesesatan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang mutasyaabihaat dari padanya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya, padahal tidak ada yang mengetahui takwilnya melainkan Allah. Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata : yang mutasyaabihaat, semuanya itu dari sisi Tuhan kami. Dan tidak dapat mengambil pelajaran (daripadanya) melainkan orang-orang yang berakal, (mereka berdoa): Ya Tuhan kami, janganlah Engkau jadikan hati kami condong kepada kesesatan sesudah Engkau beri petunjuk kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi Engkau; karena sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi (karunia). Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau mengumpulkan manusia untuk (menerima pembalasan pada) hari yang tak ada keraguan padanya. Sesungguhnya Allah tidak menyalahi janji.”  (Ali ‘Imran 7-9).

by cm. hizboel wathony
02-150111